Pada 19 September 1945, rakyat Surabaya merobek bagian biru bendera Belanda yang berkibar di atas Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), menyisakan Merah Putih sebagai simbol kedaulatan. Tindakan heroik ini dipicu oleh pengibaran bendera merah-putih-biru oleh pejabat Belanda tanpa izin pemerintah Indonesia setempat. Artikel ini menyajikan kronologi, tokoh kunci, dan dampak Insiden Hotel Yamato berdasarkan verifikasi silang dari sumber resmi dan jurnalistik.
Last checked: 2026-09-22
Bandingkan harga terendah dan ulasan tamu. Banyak pilihan dengan pembatalan gratis.Lihat harga
Gabungkan penerbangan + hotel dan bandingkan penawaran serta hadiah di satu tempat.Lihat hargaTautan ini berisi iklan afiliasi. Harga dan ketersediaan dapat berubah di situs tujuan.
Peristiwa: Perobekan warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato · Tanggal: 19 September 1945 · Lokasi: Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), Surabaya · Sifat: Tindakan heroik rakyat Surabaya
Bagaimana kami meneliti ini
Pemeriksaan terakhir: Februari 2025.
Sumber yang ditinjau: Wikipedia Indonesia, portal berita nasional (Kompas.com, Detik.com), portal berita daerah (Jawa Pos Group), lembaga arsip negara (ANRI), dan portal berita publik (RRI.co.id).
Kami tidak melakukan kunjungan langsung ke lokasi, tidak mewawancarai saksi atau tokoh, dan tidak mengakses arsip primer selain yang telah dikutip oleh sumber-sumber tersebut.
Sekilas Insiden Hotel Yamato
- 19 September 1945 (Wikipedia Indonesia)
- Hotel Majapahit, Surabaya (ANRI)
- Biru pada bendera Belanda (merah-putih-biru) (Kompas.com CekFakta)
- Kemarahan rakyat atas pengibaran bendera Belanda tanpa izin (RRI.co.id)
Apa yang Terjadi dalam Insiden Hotel Yamato?
Insiden bermula pada malam 18 September 1945, ketika sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan W.V.C. Ploegman mengibarkan bendera merah-putih-biru di puncak Hotel Yamato sekitar pukul 21.00. Tindakan itu dilakukan tanpa persetujuan pemerintah Indonesia daerah Surabaya dan langsung memicu kemarahan warga yang baru saja merayakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 (Kompas.com CekFakta).
Keesokan paginya, massa dan pemuda Surabaya berkumpul di depan hotel. Upaya perundingan antara Residen Surabaya Sudirman dan Ploegman untuk menurunkan bendera berlangsung alot dan akhirnya gagal, berujung bentrokan fisik di lobi hotel (ANRI).
“Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945 menjadi awal dari rentetan pertempuran di Surabaya.”
— Kompas.com CekFakta
Kronologi Insiden Hotel Yamato
Menurut catatan ANRI dan sejumlah media, setelah perundingan buntu, para pemuda menerobos masuk hotel. Hariyono dan Kusno Wibowo memanjat dan mencapai tiang bendera, menurunkan bendera Belanda, lalu merobek bagian biru sehingga yang tersisa hanyalah warna merah dan putih—bendera Indonesia. Bendera itu kemudian dikibarkan kembali di puncak hotel sebagai simbol kedaulatan (Detikcom Jatim).
Insiden ini berlangsung cepat, namun dampaknya menggema hingga ke tingkat nasional dan internasional. Belanda menganggapnya sebagai penghinaan, sementara rakyat Indonesia melihatnya sebagai pembelaan harga diri bangsa yang baru merdeka.
Kesimpulan: Insiden ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan titik eskalasi yang menghubungkan perjuangan diplomasi dengan perlawanan fisik rakyat Surabaya.
Linimasa Peristiwa
- 18 September 1945, pukul 21.00 — Bendera Belanda dikibarkan di Hotel Yamato atas perintah Ploegman (Kompas.com).
- 19 September 1945, pagi — Perundingan Sudirman–Ploegman gagal, massa mulai merangsek masuk (ANRI).
- 19 September 1945 — Kericuhan di lobi; Hariyono dan Kusno Wibowo memanjat dan merobek bagian biru bendera, mengibarkan Merah Putih (Detikcom).
Implikasinya: Peristiwa ini menjadi salah satu pemicu utama Pertempuran Surabaya November 1945 yang menewaskan puluhan ribu jiwa.
Ringkasan Fakta Kunci
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Peristiwa | Perobekan warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato oleh rakyat Surabaya |
| Tanggal | 19 September 1945 |
| Lokasi | Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), Surabaya |
| Sifat | Tindakan heroik mempertahankan kedaulatan Indonesia |
Siapa Pelaku Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato?
Dua nama yang paling sering disebut sebagai pelaku langsung adalah Hariyono dan Kusno Wibowo (kadang ditulis Koesno Wibowo). Menurut Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), keduanya berhasil memanjat dan menurunkan bendera Belanda, lalu merobek bagian biru. Detikcom Jatim juga mengonfirmasi peran mereka dalam artikel khusus mengenang peristiwa itu.
Tokoh Insiden Hotel Yamato
Selain dua pemuda tersebut, tokoh kunci lain adalah Residen Sudirman yang mewakili pemerintah Indonesia dalam perundingan, serta W.V.C. (Victor W. Charles) Ploegman, pejabat sipil Belanda yang diangkat NICA. Ploegman sering disebut sebagai “walikota Surabaya” versi Belanda, meskipun jabatan formalnya tidak sepenuhnya konsisten antarsumber (RRI.co.id menyebutnya pejabat sipil).
“Versi resmi ANRI menyebut Hariyono dan Kusno Wibowo bersama-sama menurunkan bendera Belanda di Hotel Yamato lalu merobek bagian biru dan mengerek kembali sisa merah-putih sebagai bendera Indonesia.”
— Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
Mengapa ini penting: Identifikasi pelaku yang relatif konsisten lintas sumber resmi memperkuat narasi bahwa insiden ini bukan aksi anonim, melainkan tindakan kolektif yang dipelopori individu-individu dengan nama yang tercatat sejarah.
Spesifikasi Hotel Yamato
| Atribut | Keterangan |
|---|---|
| Nama asli (kolonial) | Oranje Hotel (Radar Banyuwangi/Jawa Pos) |
| Nama pendudukan Jepang | Hotel Yamato |
| Nama sekarang | Hotel Majapahit |
| Alamat | Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur |
| Tanggal insiden | 19 September 1945 |
Bagaimana Kondisi Hotel Yamato Sekarang?
Bangunan yang menjadi saksi bisu insiden tersebut kini beroperasi sebagai Hotel Majapahit, sebuah hotel bersejarah di pusat Surabaya. Fasad dan struktur utama masih dipertahankan, sehingga pengunjung dapat melihat langsung tempat di mana peristiwa perobekan bendera terjadi. Lokasinya berada di Jalan Tunjungan, kawasan yang ramai dengan aktivitas bisnis dan wisata.
Hotel Yamato Kini: Hotel Majapahit
Perubahan nama dari Oranje Hotel (era kolonial) menjadi Hotel Yamato (era Jepang) dan akhirnya Hotel Majapahit mencerminkan perjalanan politik bangsa Indonesia. Menurut laporan Radar Banyuwangi (Jawa Pos Group), bangunan ini masih mempertahankan arsitektur kolonial dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Surabaya.
Lokasi dan Cara Menuju ke Sana
Hotel Majapahit beralamat di Jalan Tunjungan No. 65, Surabaya. Lokasinya berada di pusat kota, dekat dengan Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember. Pengunjung dapat menggunakan taksi, transportasi daring, atau angkutan umum menuju kawasan Tunjungan. Tidak ada biaya masuk untuk melihat bangunan dari luar; untuk menginap atau mengunjungi area hotel, diperlukan reservasi langsung melalui manajemen hotel.
Yang perlu diperhatikan: Bangunan ini masih berfungsi sebagai hotel aktif. Wisatawan yang ingin melihat lokasi insiden disarankan menghormati area privat dan mengikuti aturan yang berlaku.
Mengapa Insiden Ini Menjadi Penting bagi Sejarah Indonesia?
Insiden Hotel Yamato bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia terjadi hanya 33 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan dan di hari yang sama dengan Rapat Raksasa Ikada di Jakarta. Kedua peristiwa itu menandai konsolidasi massa dan penegasan kedaulatan di dua kota besar (Radar Banyuwangi/Jawa Pos).
Dampak terhadap Perlawanan Rakyat
Perobekan bendera Belanda dianggap sebagai penghinaan langsung oleh pihak Belanda dan Sekutu, yang kemudian mempercepat konfrontasi berskala besar. Sejarawan mencatat bahwa insiden ini menjadi salah satu pemicu Pertempuran Surabaya 10 November 1945—yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kompas.com CekFakta menyebut insiden ini sebagai “awal dari rentetan pertempuran di Surabaya”.
Peran dalam Pergerakan Kemerdekaan
Dalam kurikulum pendidikan Indonesia, Insiden Hotel Yamato dimasukkan dalam Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Kemendikbudristek sebagai bagian dari rangkaian perlawanan terhadap kembalinya Belanda. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperoleh melalui proklamasi, tetapi juga dipertahankan dengan pengorbanan fisik dan semangat persatuan (Detikcom Detikpedia).
“Peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda yang berkibar di Hotel Yamato yang kini menjadi Hotel Majapahit terjadi pada 19 September 1945.”
— Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
Intinya: Insiden ini mengubah Surabaya dari sekadar kota pelabuhan menjadi “Kota Pahlawan”, sekaligus membuktikan bahwa rakyat Indonesia siap mempertahankan kemerdekaan dengan segala cara.
Pertanyaan Umum tentang Insiden Hotel Yamato
Apa yang dimaksud dengan Insiden Hotel Yamato?
Peristiwa perobekan warna biru bendera Belanda yang berkibar di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) pada 19 September 1945 oleh rakyat Surabaya (Wikipedia Indonesia).
Kapan Insiden Hotel Yamato terjadi?
19 September 1945 (Kompas.com).
Di mana lokasi Hotel Yamato?
Di Surabaya, kini menjadi Hotel Majapahit beralamat di Jalan Tunjungan (ANRI).
Siapa yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato?
Rakyat Surabaya, terutama pemuda Hariyono dan Kusno Wibowo, yang memanjat dan merobek bagian biru bendera (Detikcom Jatim).
Apakah Hotel Yamato masih ada?
Fisik bangunan masih ada, namun kini berfungsi sebagai Hotel Majapahit (Radar Banyuwangi).
Apa penyebab Insiden Hotel Yamato?
Kemarahan rakyat atas pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato yang dianggap melecehkan kedaulatan Indonesia (RRI.co.id).
Mengapa insiden ini penting?
Menjadi babak awal perlawanan fisik rakyat Surabaya yang kemudian memuncak dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945 (Kompas.com).
rri.co.id, cnnindonesia.com, detik.com, en.wikipedia.org, rri.co.id